Rabu, 06 April 2011

Terserah Halaman Berapa Kang, E... Hok

Tidak seperti kelas-kelas yang lain yang cenderung diam, kelas ini lebih ramai. Ada beberapa orang anak kyai disini, dan sepertinya semuanya memang nyeleneh. Salah satunya Tasyim. Terbiasa tidur di tengah pelajaran dan hobi men-tashrif nama ustadznya keras-keras. Salah satu sahabat karibnya yang sering menemaninya ngobrol, begadang ngopi hingga minggat dari pondok bernama Qilal. Seperti hari-hari sebelumnya dan mungkin juga hari-hari berikutnya, mereka bergurau di belakang sementara sang ustadz memulai pelajaran.

Ehm, tampaknya ustadz yang biasanya berhalangan hadir dan harus digantikan salah seorang ustadz baru yang terlihat masih canggung.
"Saya cuma menggantikan disini... geh, mungkin nanti banyak kekurangan jadi sebelumnya nyuwun ngapunten.", ustadz itu berbicara di depan, suaranya pelan dan sopan. Diam sejenak tidak memandang santrinya dan hanya memandang ke bawah saja, tapi kemudian melanjutkan, "Jadi saya tidak akan melanjutkan pelajarannya. Lebih baik kita mengulang saja yang sudah-sudah. Njenengan membaca kitabnya dan saya nyemak."

Dan para santri hanya menjawab "Geh, pak..."

Sang ustadz mulai melanjutkan lagi bicaranya, "Ustadz Habib tidak bisa hadir karena harus nderekke mbah Kyai, jadi saya mengantikannya." Kali ini dia memberanikan diri menatap santri-santri dadakan nya. Memandang wajahnya satu persatu, kemudian tertarik pda salah satu sosok. "Mas Tasyim, coba njenengan baca kitabnya."

Tasyim yang memang sibuk sendiri bingung beberapa saat. Kitab gundulannya memang benar-benar digundulin . saat ustadz mendikte maknanya, ia jarang mengisinya. Ia hanya membolak-balik kitabnya beberapa saat.

"Ayo, monggo dibaca. Terserah halaman berapa...", sang ustadz memerintahnya halus.

Sebenarnya ini yang ia tunggu-tunggu. Wajahnya berbinar ketika mendengar ustadznya ngendikan 'Terserah Halaman Berapa'. Tasyim segera membuka halaman 7. Membacanya  dengan lancar beserta makna per katanya. Sang Ustadz tampak puas. Sementara Qosim dan teman-temannya tertawa cekikian. Ustadz yang masih baru ini sepertinya belum tahu kalau kejadian ini bukan sekali dua kali terjadi. Halaman 7 adalah halaman favoritnya yang memang di hafalnya. Sebagai senjata untuk saat-saat kepepet seperti ini. Pernah juga saat ia mendapat tugas membaca bagian yang lain, ia menawar untuk membaca halaman 7 dengan alasan ia ingin memahaminya lagi. Tasyim cengangas-cengenges.

Sang ustadz masih menyisakan senyumnya, namun kemudian berkata, "Ayo karena sudah berhasil membaca, sekarang silahkan Mas Tasyim pilih salah satu temannya untuk menerangkan...". Seperti ustadznya, tasyim juga masih tersenyum. "Dan... boleh memilih hukuman apa bagi yang tidak bisa...", tambah ustadznya.

"ehm...", Tasyim berpikir sejenak sembari memandang teman-temannya. Kemudian berkata, "Qilal pak, dia yang paling tua dan paling pinter. Hukumannya berdiri 5 menit kalau tidak bisa."

Sang ustadz mengalihkan pandangannya kepada Qilal. "Oke mas Qilal. Monggo diterangkan."

Qilal memandang tasyim dan hanya berkata, "E...hok...". Sementara Tasyim hanya membalsa dengan tawa kemenangan. Satu menit dua menit hingga beberapa menit Qilal hanya diam saja karena ia kesulitan menerangkan masalah pelajaran tauhid ini.

Dan dengan tawa yang semakin lebar Tasyim nyeletuk, "E...hok... saatnya hukuman dijalankan pak... 5 menit..."
"Sesuai perjanjian, ayo mas Qilal... berdiri 5 menit", meski memberikan hukuman namun suara sang ustadz tetap terjaga halus dan sopan.
Qilal meletakkan kitabnya di dampar, dengan enggan ia terpaksa berdiri dan lagi-lagi berkata, "Tasyim.... E... hok..."

Pelajaran kembali berlangsung dan Tasyim masih memegang kendali karena ia tadi berhasil membaca. ustadznya kembali memintanya menunjuk temannya. Sekitar separuh kelas kena tunjukannya dan semuanya tidak berhasil menjelaskan dengan memuaskan. Dan semuanya juga harus menerima hukuman berdiri 5 menit. Senyum kemenangan tasyim semakin menjadi-jadi.

"Mas Tasyim..", ustadznya kembali mengalihkan perhatian ke Tasyim. "Jadi... belum ada yang bener ya?"
"Belum pak... ", jawab tasyim mantap...
"ehm... kalau begitu sekarang  njenengan saja yang menerangkan...!", sang ustadz memerintah.

Tasyim kaget karena tidak megnira ia akan kena tunjuk lagi. Ia hanya menghafalkan ma'nanya saja. Dan bahasa indah kitab yang tiap kalimatnya terkesan berbolak-balik itu menyusahkannya untuk merangkai kalimat yang tepat. Ia menemui 'keadaan' yang sebelumnya ia ciptakan untuk teman-temannya... Dengan pasrah ia menjawab, "Saya... saya juga tidak ngerti  pak."

Sang ustadz yang masih baru dan dianggap remeh tiu ternyata jauh di atas pikiran Tasyim. Ia sudah menyiapkan suatu rencana terhadap Tasyim. "O....", sang ustadz gantian membuat ekspresi kemenangan dan kemudian memerintah, "Kalau begitu sekarang njenengan  yang harus berdiri. Bukan 5 menit... tapi sampai pelajaran ini selesai..."

Seisi kelas tertawa. Tasyim berdiri, terlihat memperhatikan jam. 'Ah, masih seperempat jam lagi' pikirnya. Kemudian ia berkata keras-keras "E....hok...". Tasyim harus melewati sisa pelajaran ini dengan berdiri. Ustadnya akan menjelaskan masalah tauhid ini, dan mungkin saja... dengan berdiri justru Tasyim akan lebih mudah menerimanya....

---------------------------------------
Pokokmen, E... Hok... hehehe

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar