Rabu, 06 April 2011

Sawi I'm In Love, Kisah Cinta di Pesantren

Hasyim termenung. Kini pikirannya kabur, namun kitab itu masih bertahan di tangannya dan tetap terbuka. Ia sedang mencoba menghafal. Besok setoran (maju menghadap guru, melafalkan hafalan yang ditugaskannya). Namun, ia merasa kesulitan malam ini. Pikirannya kabur, dan tiba-tiba saja ia teringat pengalamannya beberapa tahun yang lalu. Saat ia masih tingkat satu.

-----

Sebentar lagi setengah sepuluh. Para santri berkeringat. Hari ini jadwal setoran. Hampir semuanya berkeringat dan menampakkan ketidak siapannya. Ustadz yang satu agak 'tegaan' memberikan hukuman bagi yang tidak hafal. Pernah suatu kali salah satu teman Hasyim dihukum untuk merapikan sandal satu pondok yang tentu saja jumlahnya ratusan pasang. Belum lagi hukuman-hukuman lain seperti hormat di tengah lapangan atau berendam di kolam. Pernah juga ada yang mendapat hukuman menghitung jumlah paving di halaman utama pondok yang cukup luas. Lebih luas dari lapangan futsal. Sampai pelajaran selesai ia tidak juga berhasil menghitungnya. Kadang-kadang para santri berfikir, mengapa harus Ustadz yang satu ini yang menangani hafalan... Uhhh... tapi mengeluh tak meredakan ketegangan mereka.

Setengah sepuluh lebih lima menit. Sang Ustadz datang. Para santri seketika diam dan menutup kitab mereka masing-masing.
"Tidak boleh ada lagi yang menghafalkan disini, atau akan kena denda", kalimat pertama ustadz ini semakin membuat Santri deg degan. Hukuman apa lagi hari ini? Pikir mereka.

Ustadz itu memanggil mereka secara acak dan juga memberikan bagian hafalan dengan undian. Jadi, tidak ada pilihan lain selain mereka memang harus menghafal satu kitab. Satu persatu maju. Semuanya maju dengan wajah yang berkeringat dingin. Namun sebagian besar kembali dengan senyum karena mereka melaluinya dengan mulus.

Tibalah saatnya Ali, salah satu teman senagkatan hasyim. Pendek, hitam dan sudah nunggak beberapa kali. umurnya sudah tua namun ia masih tetap bersemangat menuntut ilmu. meski lagi-lagi tahun ini harus belajar di tingkat satu. Seperti telah diperkirakan Hasyim dan juga teman-temannya. Hari ini Ali gagal lagi.
"Kamu duduk dulu Li di belakang... balik dulu sana...", perintah ustadznya dan Ali dengan sopan menurut. "Sekarang yang terakhir... Hasyim...", sambung Ustadznya. ya Hasyim tak dapat menolaknya lagi. Memang tinggal ia satu-satunya yang belum mendapatkan giliran. Keringatnya menetes deras.

Dengan memaksakan tekad ia maju kedepan. Mengambil undian kemudian membuka kitabnya. Sang Ustadz sibuk dengan rokoknya, namun terlihat siaga untuk menyimak. Hasyim mulai membaca, namun tak ada suara yang keluar. Ternyata mentalnya tak cukup kuat dan beban menjadi santri yang maju paling akhir ternyata terasa sangat berat. Hafalan yang memang belum benar-benar ngelotok itu hilang seketika.

"Ayoooo Syim, dibaca... kok malah diam kamu itu...", sang Ustadz kini memperhatikan Hasyim.
Hasyim mencoba membaca lagi namun kembali tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Kini matanya mulai merah. Entah karena ia merasa malu berat atau karena memang ia merasa tak akan mampu lagi terhindar dari hukuman. Sang Ustadz melihat perubahan di matanya itu...
"Owalah... kok mbrambang... gak bisa gak apa-apa...", sang Ustadz berbicara santai. Perkataan itu menenangkan Hasyim beberapa saat sebelum akhirnya sang ustadz melanjutkan perkataannya, "Gak bisa gak papa, tapi ya dihukum..." ustadz yang satu ini memang tak pandang bulu. Show Must Go on. Hukuman itu harus tetap di jalani.

"Li..., sini kamu...", Ustadz tadi memanggil Ali. "Kamu sama Hasyim sekarang ke pohon Sawo... kalian peluk pohon Syawo itu berhadapan. Sampai tangan kalian bisa saling pegangan...."
Seisi kelas gerrrrrr.... Ada saja ide kreatif sang Ustadz. Hasyim sama dengan Ali. Hanya bisa menurut. Keduanya keluar dari Mushola Pondok yang memang menjadi tempat ngaji itu. Meski terpaksa keduanya mencoba ikhlas menjalani hukuman itu. Berhadapan memeluk pohon Sawo yang konon telah ada sebelum Pondok ini dibangun. Tangan mereka saling berpegangan.

Semakin siang dan semakin panas. Matahari nakal menggoda keduanya yang sudah harus menjalani hukuman. Keduanya semakin berkeringat namun mesti tetap bertahan dalam posenya masing-masing. Sang Ustadz lebih memilih meneruskan pelajaran daripada memberikan keringan dan menyuruh mereka berteduh....

Siang itu... Hasyim dan Ali merasakan cinta yang luar biasa. Mereka hanya dibatasi oleh pohon Sawo keramat yang tentunya menjadi saksi cinta-cinta yang lain.

---------------------------------------------------

Hasyim terperanjat dari lamunannya. Seseorang menepuk pundaknya sehingga mengusik lamunannya itu. Ia hafal betul sosok itu. Di balik wajahnya yang hitam mengkilat ada senyum yang ikhlas, kemudian sosok itu berkata, "Ayo mbakar Telo... baru saja aku cabut dari kebunnya mbah kyai..."

------------------------------------------------------------

NB: jadi teringat dan trenyuh... inget sekali kata salah satuguru saya...
"Ilmu kuwi iso mlebu lewat opo wahe... ora mesti pas kowe sinau terus langsung mlebu... sing penting usaha lan usaha terus... kadang ilmu kuwi dilebokke pas kowe keno dendo... dadi yo kabeh dilakoni wahe kanti Ikhlas..."

Amiiiiiiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar