Selasa, 05 April 2011

Angka 13

http://images.fariedkurniadi.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Sc2ctgoKCtgAAB7i5nk1/today-13.JPG?et=TVJTgb99ChKUBhAh1hytrA&nmid=0
Syukron. Seringkali tidur saat jam pelajaran. Dengan kitab terbuka dan kepala menunduk seakan-akan ia sedang mendalaminya. Apalagi jam Musyawarah malam hari, yang berakhir pukul 22.00. Hampir setiap Musyawarah ia tidur. Tentu setelah menghabiskan 2 batang lintingan (rokok buatan tangan sendiri, dibuat secara sederhana).

Seperti juga malam ini. Setelah menghabiskan 2 lintingan, ia membuka kitabnya. Bukan untuk mempelajarinya, melainkan untuk memantapkan aktingnya. Setelah pose dikira pas, ia tertidur.... Sialnya bagi dia, sang wali kelas ternyata sedang ber patroli malam ini. Sang wali kelas tentu pernah muda dan mungkin pernah melakukan hal serupa. Oleh karena itu, akting kacangan itu segera terbongkar. Beliau segera menyuruh santri yang lain untuk membangunkannya.

Setelah digoyang goyang dan dipanggil panggil beberapa saat, akhirnya... Syukron terbangun... gelagapan...
"Ada apa sih, maksudnya apa? gak tahu orang lagi enak tidur... nanti aja kalau ada Ustadznya...", dengan penglihatan yang masih kabur, Syukron mengumpat...
"Wudlu... Wudlu...", perintah sang Ustadz. Dan tampaknya kali ini Syukron sudah cukup sadar untuk mendengar samar-samar suara Ustadz yang juga wali kelasnya itu. Diusahakannya matanya terbuka lebar-lebar dan tentu saja ia kaget.
"Ngapunten pak..", Syukron meminta maaf...
"Wes gak apa-apa... tapi sekarang Wudlu terus nanti pijat punggung saya, ya... wes... cepat Wudlu..."
"Geh, pak...", syukron menurut dan kemudian segera menuju kolam untuk mengambil air Wudlu.

Beberapa saat kemudian Syukron kembali ke tempat Musyawaroh dan setiba di sana sang Ustadz sedang menerangkan tentang suatu masalah yang kesulitan dipecahkan para santri. Sang Ustadz memberi kode dan Syukron segera memulai memijatnya...
"Kok pelan amat...", Sang Ustadz mengomentari pijatan Syukron yang mungkin memang masih lemes karena bangun tidur.
"geh, pak.", Syukron hanya nggah nggeh nggah nggeh saja.
"Sampai jarum panjang di angka 12 ya...", perintah sang Ustadz...
"Uhhh.... 15 menit...", secara reflek Syukron mengeluh... Saat itu memang jam 9 kurang 15 menit.
"Walah... santri sekarang baru segitu saja mengeluh...  ", sang Ustadz kelihatan agak kecewa dengan keluhan santrinya itu. Padahal seingat dia, sewaktu dia menjadi santri, memijat ustadznya sampai berjam-jam itu sudah biasa... tapi kemudian beliau melanjutkan, "yo wis kalau gitu, lanjutkan pijatnya sampai jarum panjang di angka 13..."

Deg... deg... wajah Syukron pucat... Ia perhatikan jam dinding di pojokan ruangan. Mana ada angka 13? Tapi terlanjur..... tak mungkin ia menunjukkan ia mengeluh untuk yang kedua kalinya di depan ustadznya itu... Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mencoba menata hatinya... IKhlas..... Ta'dhim....

-----------------------------------
Oktober yang panas. Sang Ustadz tersenyum. Sepertinya ia menikmati permainan ini. Doel yang ada di dekatnya bisa melihatnya bahwa sang Ustadz hanya bermain-main. Meski entah kapan sang Ustadz akan menghentikan permainannya... sejam lagi? dua jam lagi? Yang pasti sampai saat itu... Syukron harus terus mengeluarkan jurus pijatnya.... Bermimpi kalau-kalau benar ada angka 13 di tengah jam dinding itu...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar