Rabu, 06 April 2011

Doel... Doe... Mbek Wong Mbeng...

Doel menguap lebar. Malam ini dia kesepian. Kamarnya sepi, dia sendirian. Lima orang yang biasanya juga menghuni kamar itu semuanya mendapat panggilan dan sepertinya akan kena denda. Paling tidak denda membaca Yaasin 3 kali atau Waqi'ah 3 kali. Doel mulai bosan dengan kesendiriannya. Mengambil novel dan buku catatannya, kemudian ngeloyor pergi keluar kamar, berlagak tenang tersenyum kepada petugas jaga. Ia keluar gerbang...

Sebenarnya ia gundah. Kegundahan itu lebih dikarenakan rasa laparnya. Dalam kesendirian saura keroncong perut itu makin jelas dan mensugesti bahwa ia kudu segera makan. Ia melirik saku kemeja batiknya, ada satu lembar dua puluh ribuan dan beberapa lembar ribuan. Ah, cukup... pikirnya. Doel segera menuju pusat kuliner terdekat. Sesampai disana sudah sepi, hanya tersisa dua tenda saja yang sama-sama menjajakan Ayam Goreng, Pecel Lele dan Nasi Goreng. Tak lama berpikir, ia memilih ke tenda yang berwarna biru. Doel memang lebih sering makan disana.

Sesampai disana ia langsung disambut seorang mbak-mbak usia SMA. Menanyakan menu yang akan di pesannya. Namun Doel malah balik bertanya, Ayam Goreng Berapa?. Pelayan itu menerangkan harganya dan Doel mengangguk setuju. "Minumnya Es Jeruk", tambah Doel ketika pelayan itu sedang akan beranjak pergi.

Sambil menunggu pelayan itu membuat pesanannya Doel memilih tempat duduk lesehan. Tapi, tiba-tiba seseorang memanggilnya. Doel mengenalnya dan segera menghampirinya. Dia adalah lelaki desa tetangga. Lelaki yang dikabarkan agak miring karena pernah mencari kekebalan. Dipinjamnya novel dan buku catatan itu. Ia membacanya terbalik. Doel mengarahkan membenarkannya. Dan mulailah terjadi percakapan dianatara mereka...

"Dari mana kok sampai sini mas?", tanya Doel ramah.
Lelaki itu masih sibuk dengan buku catatan Doel. Membalik-balik beberapa halaman dan tiba-tiba berkata, "Saya nggak bisa baca bahasa Arab. Bisanya Bismillah sama Alhamdulillah saja."
"La, dulu kan pernah ngaji mas...", jawab Doel sabar meski pertanyaannya tadi tak dijawab.
"Kalau ngaji memang pernah.. tapi selalu lupa...", jawab lelaki itu.
"Ya biasalah mas, karena sudah tua..."
"Sudah tua ya saya mas?"
Doel agak kaget dengan pertanyaan itu namun berusaha tetap tenang. Tadi dia menjawab enteng karena memang lelaki di depannya itu sudah tua dan pantas memiliki cucu. Sebenarnya lelaki ini juga bisa diajak ngobrol. Doel juga selalu menyapanya saat berpapasan. Hanya saja, kata orang dia sering kumat dan jadi nggak jelas. Tapi Doel masih tidak memperdulikan gosip itu dan meneruskan ngobrolnya. Suasana canggung karena pertanyaan tadi berkurang karena pelayan tadi kini menghidangkan pesanan Doel. Doel menawari lelaki itu tapi ia menolaknya.

"Sudah tua ya saya?", lelaki itu mengulangi.
"Ya sepertinya sih begitu...", jawab Doel. "Tapi yang penting kan ngajinya itu terus mas...", sambung Doel.
Lelaki itu diam menerawang beberapa saat sebelum akhirnya berkata lagi, "Saya sudah gak pernah ngaji he mas..."
"Ya ngaji lagi to mas..."
"Ya tapi gampang lupa lagi mas. Sangat pelupa."
"Yang penting kan ngajinya terus mas, masalah lupa gak papa... Sak Kersane Gusti Alloh to?", Doel menjawab sambil melahap ayam gorengnya. Tapi ternyata jawaban itulah yang membangkitkan kekumatan lawan bicaranya itu. Lelaki di depannya itu memang sering sekali mengucap 'Sak Kersane Gusti Alloh'  Kini lelaki itu mulai mengelus-elus jidatnya yang menghitam. Entah karena sering Sholat (walau kata Orang dia gak bisa Sholat) atau karena alasan lain. 
"Oh gitu ya mas...", jawab lelaki itu setelah lama terdiam.
"Iya mas, ikut aja pengajian kan sekarang sudah banyak... apalagi disini, hampir setiap hari ada..."
"Eh mas, Alhamdulillah itu apa to sebenarnya?"
"Alhamdulillah ya untuk memuji bersyukur kepada Alloh mas..."
"Jadi nek kita bilang Alhamdulillah itu berarti bersyukur ya mas?"
Doel diam sejenak memperhatikan lawan bicaranya yang kini terlihat sangat serius. "Nek kita mau bersyukur kita bilang Alhamdulillah mas... hehehe", jawab Doel sambil tertawa.
"Gitu ya? Kalau bismillah mas? Kalau bismillah?" lawan bicaranya itu semakin semangat. "Dengan menyebut apa itu mas? Menyebut nama Alloh ya mas...." lelaki itu mencoba menjawab sendiri.
"Ya itu mas betul. Kalau mau melakukan sesuatu ya bismillah dulu. Biar berkah. Nah sebelum ngelakuinnya Bismillah, kalau sudah rampung Alhamdulillah.", jawab Doel sabar.
"Oh gitu ya... kalau gitu besok aku gitu ah mas... kalau Ar Rohman Ar Rohim mas?"
"Itu sifat-sifat Alloh mas. Alloh sangat sayang pada makhluknya. Ia mengasihi kita mas... Makanya mas ayo ngaji lagi biar tahu lebih banyak... kalau dari saya kan terbatas...."

Lelaki itu diam seperti tak memperhatikan perkataan terakhir Doel. Kembali mengusap-usap jidatnya yang menghitam. Beberapa saat... Sementara Doel melanjutkan makannya... Dan sesekali nyruput es jeruk di depannya. Pelayan yang tadi mengantar makanan kini duduk di dekat mereka dan jelas sekali dari tadi ia telah mendengarkan. Mungkin ia pengen tahu lebih jelas.

"Mas... saya itu sering mendengar di sini", lelaki itu mulai berbicara sambil menunjuk jidatnya, kemudian meneruskan lagi perkataannya, "Saya sering dengar Alloh bicara kepada saya. Tapi dengan nama lain. Alloh memangil manggil saya dengan nama Herlina mas... Sering sekali berbisik-bisik kepada saya... Emang Alloh bicara kepada saya ya mas?"
"Alloh kan bicaranya lewat Al Quran mas...", Doel menjawab cepat kemudian diam. Sebenarnya dia sudah sadar bahwa lawan bicaranya ini mulai kumat. "Itu tandanya mas mesti baca Laailahaillalloh Muahammadurrosululloh mas...", sambung Doel.
"Gitu ya mas... kalau itu saya bisa...", jawab si lelaki polos.
"Nah, bagus kalau gitu mas.... yang banyak mas..."
"Tapi sebenarnya Alloh itu apa sih mas? Saya pernah ngaji sama mbah Wahid dan tanya itu."
Doel makin bingung menanggapi orang di depannya ini. Dan hanya balik bertanya, "La kata mbah Wahid gimana?"
"Alloh itu yang menciptakan langit dan bumi seisinya mas..."
"nah, itu betul... bener yang dikatakan mbah Wahid ", Doel mengambil titik aman.
"Alloh itu bahasa arab ya mas?"
"Alloh itu ada di bahasa apa saja mas..."
"La kalau di arab kan Alloh kalau di jawa Gusti..."
"Gusti Alloh....", potong Doel. "Jadi ya setiap hari mas bilang saja, Alloh Alloh Alloh Alloh terus... yang banyak ..."
"Oiya iya iya.... Gusti Alloh itu pemimpin dunia ya mas? La di tv Obama juga pemimpin dunia.. gimana itu mas... eh Obama ya mas?"
"Kalau Obama pemimpin Dunia ndak papa mas... tapi Gusti Alloh itu pemimpin dunia, akherat dan juga pemimpin Obama...", jawab Doel sambil tertawa.
"ow... jadi Obamanya kalah ya..."
"Nah, betul...."

Lelaki itu manggut-manggut tapi kemudian mulai menerawang, sementara Doel mulai gelisah dengan pertanyaan seperti itu.
"Eh mas, saya pernah dapat bisikan dari Alloh bahwa saya itu pemimpin dunia... bisik-bisik gitu terus mas...", lelaki itu masih terus bertanya lagi.
"kalau dengar bisikan gimana mas?"
"Oiya... Laailahaillalloh Muhammadurrosululloh...", lelaki itu tersenyum puas masih tetap mengusap-usap jidatnya.
Doel sedikit lega, dan piringnya juga telah kosong. Dihabiskannya es jeruknya. Kemudian mencoba mengalihkan perhatiannya.

"Kok disini emang dari mana mas", tanya Doel...
"Kersane Gusti Alloh mas saya disini..."Doel manggut-manggut dan diam saja. Beberapa saat keduanya diam, sementara mbak pelayan tadi masih asyik memperhatikan mereka berdua.
"Saya mau pulang dulu ya mas... Mau bareng?", Doel menawarkan...
"Kersane Gusti Alloh mas saya masih disini...", jawabnya lagi.
"O nggeh pun, saya pamit dulu ya mas..."
Doel membayar kepada pelayan itu, tersenyum kepada lelaki dan pelayan itu. Keduanya membalas senyum Doel. Kemudian doel cepat-cepat pergi, bersama rasa gundahnya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar