Rabu, 06 April 2011

Siapa Mau Dapat Berkahnya Pak Ustadz?

Hidup di pondok memang terbiasa makan seadanya. Istilah 4 Sehat 5 Sempurna itu cukup di tanamkan dan dimantapkan saja di dalam hati. Kadang mereka makan dengan nasi saja dan tanpa lauk. Kadang mereka makan lauk saja atau sayur saja dan tanpa nasi. Yang pasti semuanya terasa enak karena biasanya dimakan bersama dengan tembor (sejenis nampan bundar, nasinya di masukka ke nampan tersebut kemudian beberapa santri mengelilinginya dan makan bersama).

Namun, kadangkala juga para santri urunan untuk membeli makan yang lebih enak. Seperti malam itu dalam rangka mensyukuri khataman kitab, mereka mengadakan acara mayor kelas dengan mengundang sang Ustadz kitab tersebut. Judul undangan pun di buat wah agar semuanya datang, 'Malam ini kita makan ayam..'

Akhirnya waktunya telah tiba dan masakan telah siap. Kemudian nasi serta masakannya dibagi rata ke dalam 5 tembor besar. Kelas itu terdiri dari sekitar 20 orang. Tasyim, Qilal dan salah satu anak kyai yang lain ditambah ustadz undangan mereka, diberi jatah untuk makan dalam satu tembor. Sementara 4 tembor lain tidak ada aturan, dan santri yang tersisa bebas memilih yang mana saja. Setiap tembor dinikmati 4 hingga 5 orang. Tasyim, Qilal dipisahkan bersama ustadz mereka tentu karena dengan bermaksud memberikan penghormatan pada putro kyai dan ustadz mereka itu.

Setelah membaca bismillah, mereka semua mulai menikmati masakan malam itu 'yang ternyata' lebih didominasi tahu. Memang ada daging ayam sesuai yang dijanjikan, namun sangat lah sedikit (maklum, menurut sang ketua kelas anggaran tidak cukup...hehehe). Tasyim dan Qilal segera berebut mencari daging ayam yang terbatas itu. Sang Ustadz yang tentu lebih berpengalaman pun tak mau kalah. Jadilah pergelutan sengit malam itu. Tidak berapa lama kemudian ustadz mereka ngeloyor pergi...

"Wah, pengalaman tenan... tahu aja ayamnya udah habis... tinggal tahunya saja", bisik Tasyim pada Qilal begitu sang ustadz pergi. Tasyim melirik ke kelompok sebelah dan terlihat semuanya sudah hampir habis. Sementara bagian kelompoknya masih banyak, nasi masih menggunung dan kini tinggal 3 orang yang harus menghabiskan.

"Gimana ini Lal?", tanya Tasyim pada Qilal dengan berbisik.
"Sudah tenang saja, aku tahu caranya", Qilal santai menjawab sambil beranjak berdiri. Kemudian ia berkata keras-keras, "Siapa yang mau berkahnya pak Ustadz... bekasnya pak Ustadz ini lo, hafalan pasti bisa tambah ngelotok..."

Mendengar begitu santri-santri yang lain segera berebut pindah ke Tembor mereka. Qilal ngeloyor pergi sambil memegang perutnya... dan tasyim pun menyusulnya.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar